Dahulu Kampung Ini Ditakuti Masyarakat Karena Banyak Preman Berkeliaran, Tak Disangka Banyak Orang Yang Berebut Datang Kesana

  • Whatsapp

Kampung Dadapsari, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo selama ini sering dicap sebagai kampung preman hingga membuat warga sekitar geram.

Hal ini membuat seorang aktivis sosial yang bernama DannySetyawan membuat rumah baca untuk memberikan pencerahan setiap warga kampungitu. Bukan tanpa alasan Dany mendirikan rumah baca ini. Tingkat Kemiskinan dan berpendidikan renda yang ada di Kampung Dadapsar membuat anak-anak hanya bisa bersekolah sampai tingkat SMA, setelah itu mereka harus rela bekerja.

Namun dengan kurangnya keahlian yang dimiliki oleh anak-anak itu, maka mereka tetap akan kesulitan dalam mencari kerja. Kondisi ini sangat dipersulit dengan adanya sebutan Kampung Preman pada Kampung Dadapsari ini.

“Banyaknya pengangguran di kampung Dadapsari Sangkrah Solomengakibatkan remaja mengenal minuman terlarang, terlihat dalam kenakalanremaja, perjudian. Bahkan ada beberapa pemuda terlibat dengan tindakan tindakankriminalitas seperti pencurian, perampokan, penjambretan, barang terlarang,”kata Pembina Rumah Baca Sangkrah, Danny Setyawan.

Sebelum mendirikan rumah baca, warga kampung meminta Danny untuk mendirikan perpustakaan namun agar tidak terkesan formal Danny mengusulkan mendirikan rumah baca. Tidak adanya lahan buat ngebangun rumah baca menjadi salah satu rintangan. Akhirnya pos ronda dengan ukuran 1,5 meter x 2,5meter direnovasi dan membangun rak-rak buku. Niatan seperti ini mendapat respon baik dari semua pihak.

Dibantu oleh beberapa relawan dan memaksimalkan mediasosial, hasilnya netizen pun tergerak untuk mengirim bantuan buku baca dariseluruh Indonesia. “Dan akhirnya rumah baca itupun secara resmi dibukaterhitung sejak 17 Januari 2014 lalu,” kata Danny.

Kebutuhan akan ruang untuk program pemberdayaan, awal Februari tahun 2016, dengan bantuan beberapa teman rumah baca menyewa sebuah rumah seluas 300 meter persegi dengan harga Rp 20 juta setahunnya. “Rumah itusampai sekarang dipergunakan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan warga,”ungkap Danny.

Kesuksesan rumah baca yang diberi nama Rumah Baca Sangkrah ini menarik dan membuat banyak orang terinspirasi. “Beberapa akademis  baik mahasiswa dan dosen juga telah banyak mengadakan penelitian di rumah baca. Tahun 2016 sekitar seratus orang lebih dari jaringan Mahasiswa sosialogi seJawa Bali mengadakan kunjungan dan belajar langsung ke Rumah Baca Sangkrah,” perjelas Danny.

Kini koleksi buku milik Rumah Baca Sangkrah mencapai lebih dari 2.000 buku hasil dari bantuan seluruh masyarakat. Tak hanya buku, disinjuga menyediakan akses internet gratis, TV kabel, alat musik, sampai mainan edukasi.

Danny menyebutkan saat sudah ada 15 pemuda binaannya yang memiliki keahlian siap pakai dalam bidang sablon, rias, pahat, gambar. Takhanya dibekali dengan keterampilan, anak asuhnya itu juga mendapatkan ilmu berwirausaha dan tetap peduli dengan sesama. “Sebagai buktinya, hasil penjualanbarang, sekitar 20 persen digunakan untuk kembali ke masyarakat dalam bentuk edukasi,” Kata Danny.

Karya yang dihasilkan warga binaan dari Rumah Baca Sangkrah dapat diekspor hingga ke Eropa. Contohnya patung berbentuk bebek yang berbahanbonggol atau akar bamboo ori dan karya berupa kaos dipesan distro di kota Solodan kota lain di Indonesia. Seorang warga binaan yang bernama Handy Saputrausia 22 tahun mengaku setelah ia bergabung di Rumah Baca Sangkrah ini, banyak perubahan positif terjadi dan dapat mengasah keahlian juga.

Kini ia sudah mahir dalam melakukan pengecatan air brush dan dapat menerima pesanan. Tak hanya ingin sukses sendiri, ia juga mengajak teman-temannya yang sudah putus sekolah. “Saya coba gerakkan teman yang putus sekolah untuk sama-sama terjun ke dunia air brush. Dan syukur ada dua orang yang ikut bergabung. Saya ajak mereka dari pada mereka dari pada mereka tidakada kegiatan di rumah sehingga terjerumus pergaulan bebas,” ucap Handy.

Related posts

Loading...