Ikuti Kata Hati, Jangan Biarkan Gengsi Membuat Kita Menyesal

  • Whatsapp

Tak semua pahlawan selalu memakai jubah, hanya beberapa yang menjadi pegawai negeri sipil. Kata ibu, pengorbanan ibu dan aku akan sangat berbeda karna jalan yang ditempuh tak lagi sejalan. Tapi, arah dan tujuan pasti sama. Sama-sama menuju perbaikan diri, kebahagian bersama, dan yang paling terpenting restu dari Tuhan. Sore hari itu, sedang berlangsung acara peringatan hari besar nasional disebuah sekolah dasar. Seluruh anak dan orang tuanya pada saat itu duku, jalan-jalan menikmati bazar, dan berbincang-bincang tentang kegiatannya disekolah. Hanya saja, seorang anak perempuan yang memakai kacamatan duduk sendirian karena orang tuanya pada saat itu belum hadir, anak perempuan itu ingin sekali membeli buku di bazar itu, tapi apa ada dia tak memiliki uang untuk membelinya.

Read More

banner 300250

Kemudian, seorang dewasa muncul dan langsung menghampirinya. Wanita itu berpenampilan menggunakan jaket tebal dan memakai ransel yang besar. Ia langsung menghampiri anak sulungnya yang telah menunggu lama dari siang. Si anak tersenyum, karena melihat ibu pulang kerja.

“Bu beli buku ya.” kata sang anak kepada ibunya.

Ibunya pun tersenyum. Akhirnya, anak perempuan itu membeli buku cerita pertamanya.

Pengorbanan tak selama hanya berperang senjata. Ibu ku seorang dosen, dan baru saja menjadi seorang PNS. Jam kerjanya yang padat setiap hari, tidak boleh telat 1 menit pun. Aku berusaha untuk memakluminya, meski selalu bertanya-tanya mengapa ibuku selalu sibuk, sementara ibu teman-teman ku selalu sempat datang ke sekolah dan menunggu anaknya hingga waktu pulang.

Tapi sejujurnya aku merasa iri dengan mereka. Karena ibuku sangat jarang berada disampingku dan menemaniku.

Setidaknya, ibuku memberikanku sebuah laptop sejak aku masih di bangku SD. Laptop, satu satunya teman yang selalu menemaniku sepanjang hari. Saat itu, aku berpikir apakah ibuku tidak sayang aku? Apakah ibuku gila bekerja hingga meninggalkan aku sendiri dari pagi hingga sore, sendiri. Aku sangat benci sendirian dan ditinggal oleh ibu seharian.

Seiring waktu, aku menyadari sesuatu. Ibuku tidak punya pilihan lain selain pergi bekerja untuk membiayai hidupku. Bahkan satu pekan setelah melahirkan aku dulu, ibuku langsung kembali bekerja; walau dengan alasan ‘bosan di rumah’ yang diberikan ketika orang lain bertanya. Padahal, jauh di lubuk hati ibu, aku tahu, finansial satu–satunya alasan itu.

Waktu bergulir, aku tumbuh menjadi remaja awal. Aku disekolahkan di sekolah swasta dengan alasan kualitas pendidikan. Biaya sekolahku sangat mahal, apalagi tuntutan gaya hidup dari pergaulannya. Ibuku tidak memiliki smartphone, tidak juga bedak dan gincu yang biasa dipakai ibu teman–temanku. Tapi, ibuku tak pernah telat bayar SPP dan aku memandangnya sebagai sesuatu yang biasa saja, bukan perjuangan berarti.

Saat itu, semua temanku memakai smartphone kecuali aku. Aku merajuk, ngambek beberapa hari agar dibelikan smartphone. Ibuku, wanita yang tak memakai perhiasan apapun selain cincin mahar akhirnya membelikanku smartphone. Saat itu, aku senang. Aku bisa percaya diri jika berkumpul dengan teman–temanku. Ibuku tetap tersenyum, tanpa menjelaskan sama sekali  definisi pengorbanan.

Ibu lahir di keluarga yang sangat miskin. Beberapa kali memakai baju seragam untuk bermain karena tidak ada yang tersisa. Beberapa kali mengeringkan sepatu di atas kompor karena tak tersisa sepatu lain, tapi sepatu itu malah menciut. Meskipun begitu, ibu berhasil lulus dari perguruan negeri terbaik di ibu kota, sebuah mimpi yang tak pernah dibayangkan oleh gadis yang tak punya baju main.

Sampai saat itu, ibu tidak punya sepatu bagus, semuanya beli di pasar seharga Rp30 ribu. Namun, saat perpisahan sekolah, aku kembali ngambek minta sepatu olahraga yang biasa dipakai teman–temanku. Ibuku bilang tidak ada uang. Aku dengan egoisnya ngambek, malu dengan semua teman. Akhirnya, ibuku membelikan sepatu olahraga seharga Rp350 ribu untukku, walau, dirinya tak pernah memakai sepatu semahal itu.

Saat ini, aku sudah menjadi seorang mahasiswi. Cukup mengerti kalau selama ini aku begitu egois dan memiliki gengsi tinggi. Cukup mengerti bahwa pengorbanan ibu lebih tinggi dari rasa gengsiku. Sekarang aku memahami semuanya. Masa kecilku yang sendirian bukan salah ibu, hanya guratan takdir yang tak boleh dikeluhkan karena mengandung rencana Tuhan. Masa remajaku dengan gaya hidup sederhana bukan salah ibu, salah aku yang terlalu peduli dengan pendapat teman–teman. Masa kini yang telah menjadi lebih baik bukan karena aku, melainkan karena doa ibu yang tak pernah putus.

Apa itu pengorbanan? Tak perlu harus berada di dasar untuk disebut berkorban. Tidak harus berada di atas untuk disebut sudah berkorban. Ibu beruntung bisa lulus Sarjana. Walaupun sampai sekarang ini ibu juga belum bisa menjadi orang yang tersohor. Terkadang, antara dasar dan atap, tersimpaan jutaan pengorbanan yang tak kita ketahui karena mata hati yang tertutup, terlalu sibuk untuk memikirkan diri sendiri, merasa masalah kita yang sangat berat, hingga kita lupa dengan pengorbanan orang lain kepada kita.

Jangan biarkan gengi dalam diri kita membuat kita melakukan hal-hal yang akan kita sesali. Kemauanmu, gengsimu, cukuplah untuk disimpan dan dituruti seadanya. Jangan biarkan satu orang pun mengganggu kenyamanan ibumu.

Related posts

Loading...