Saat Hari Ibu, Anak Ini Malah Menulis Karangan Untuk Ayahnya, Isi Karangan Itu Bikin Air Mata Bercucuran

  • Whatsapp

Pada awalnya, tidak ada orangtua yang tidak merawa tanak-anaknya dengan baik. Bahkan hewan juga mengerti bagaimana cara merawat dan melindungi anaknya.

Begitu juga yang dilakukan oleh Pak Akong yang memiliki seorang anak perempuan. Ia adalah orangtua tunggal dari Inke yang saat ini sedang duduk di bangku SMA. Untuk menyambung hidup. Pak Akong bekerja sebagai tukang kebun di sekolah tempat Inke belajar. Pada siang itu, seperti biasa. Pak Akong sedang bekerja menyapu kebun.

Tiba-tiba sekretaris kepala sekolah memanggil-manggilnya. “Pak Akong, Pak Akong dipanggil ibu kepala sekolah. Segera, sekarang juga, cepetan.”Dari nada sekretaris itu, mungkin Pak Akong akan ditegur oleh Kepala Sekolah. Ia juga segera bergegas menuju ruangan kepala sekolah. “Mari masuk Pak Akong, silahkan duduk,” ucap ibu kepala sekolah dari ruangan kerjanya.

“Pak akong, coba baca ini, ini adalah karya dari Inke,” lanjut ibu kepala sekolah. “Maaf bu, kalau saya atau Inke ada berbuata salah.Saya selalu merasa berhutang budi kepada ibu karena sudah mengizinkan Inke sekolah disini,” ucap Pak Akong dengan perasaan yang tidak mengenakan.

Ibu Kepala Sekolah menanggapi penyataan Pak Akong dengan rasa sabar, “Pak, Inke bisa sekolah disini, karena Inke anak yang pandai dan bapak bekerja disini, bapak sudah bekerja dengan baik.”

“Ini adalah karangan Inke tentang Hari Ibu. Karangannya sangat bagus sekali,” ucap Ibu Kepala Sekolah sambil menyodorkan selembar kertas kepunyaan Inke. Tak lama, Inke juga masuk ke ruangan ibu kepala sekolahdan terkejut melihat ayahnya sudah terlebih dulu ada didalam ruangan,” Ibu memanggil saya? Loh papa?” Inke tampah sangat kaget.

“Iya. Inke ini adalah karangan kamu tentang Hari Ibu. Karanganmu bagus sekali, bisa baca buat papamu?” Tanya ibu kepala sekolah itu. “Ohiya bu,” jawab Inke.

“Ibuku. Hari ini kami mendapat tugas menulis tentang Hari Ibu. Karena itu, aku ingin menceritakan sosok seorang ibu yang luar biasa dihidupku. Saat aku lahir, ibu meninggalkanku dan papa buat selamanya. Papa adalah orang pertama dan satu-satunya yang menggendongku pada saat itu.

Papa sejak saat itu selalu menjaga dan mengasuhku sampai detik ini Papa punya satu keunikan, dia selalu mengatakan “tidak suka pada makanankesukaanku” dan menyuruhku segera menghabiskan makanan itu. Suatu saat akusadar. Itu adalah pengorbanannya untuk dapat melihatku makan dengan bahagia.

Papa adalah sandaran hidupku, dia yang melakukan peran gandadalam hidupku sebagai seoran gayah dan seorang ibu yang rela bangun tidur lebihawal hanya untuk menyiapkan bekalku, mengantarku ke sekolah, dan pada saat akusedih, dialah tempatku mengadu. Andai kata cinta dan perhatian menggaambarkan karakter utama dari seorang ibu, maka gambar itu sesungguhnya sangat sesuai buat papa.

Pada Hari Ibu ini, aku sangat berharap agar papa terus bahagia dan sehat. Aku sangat menghormatinya dan dengan bangga mengatakan bahwa tukang kebun di sekolah ini adalah papak. Terima kasih papa.” Ruangan itu dipenuhi rasa isak haru Inke selesai membacakan karangannya itu.

“Pak Akong, Inke adalah putri yang patut anda banggakan,”ucap ibu kepala sekolahnya. “Tidak bu, papa yang patutnya dibanggakan, tanpanya saya bukanlah apa-apa,” tepis Inke. Apakah kamu sudah mengucapka nterima kasih kepada ayah dan ibumu” Oleh karena pengorbanan yang mereka lakukan hingga kamu bisa mencapai kesuksesan.

Related posts

Loading...