Tak Hanya Kalajengking, Hewan Beracun Ini Dapat Mengimbangi Keistimewaan Kalajengking

  • Whatsapp

Beberapa tahun yang lalu, dunia Musik Indonesia di gegerkan dengan salah satu lagu dangdut yang berjudul Keong Racun besutan Buy Akur. Kehebohan lagu yang viral itu dengan menampilkan lipsync duo mojang Bandung di YouTube, Jojo dan Sinta, hingga membawa mereka menjadi terkenal dan menjadi selebritis tanah air dalam waktu sekejap.

Beberapa waktu yang lalu, kata ‘racun’ membawa hal dan fenomena yang terheboh. Diviralkan oleh Bapak Presiden Jokowi dalam sambutan beliau di Musrenbangnas (Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional) 2019, racun kalajengking menjadi topik yang disinggung beliau sebagai salah satu komoditas yang lebih mahal dari pada emas. Terlepesan dari kontroversi itu, racun kalajengking pun akhirnya menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Read More

banner 300250

Mengapa racun kalajengking terbilang mahal? Tentu mereka tidak dengan mudah untuk didapat. Perlu teknik yang khusus agar dapat mengeluarkan isi ‘racun’ kalajengking itu agar tidak berakibat fatal.

Selain itu, dari seekor kalajengking hanya bisa memperoleh kurang dari 1 mg venom saja. Namun, tidak hanya itu, sebagaimana semua obat adalah racun, racun kalajengking juga memiliki potensi untuk memenuhi kesembuhan dalam medis.

Pada jama dahulu, racun kalajengking digunakan untuk pengobatan Cina untuk terapi rematik, nyeri, meningitis, epilepsi dan stroke. Saat ini, ilmuwan telah mengembangkan racun kalajengking itu untuk pengobatan kanker dan malaria.

Akibat kehebohan berita ‘racun kalajengking’, peternak-peternak kalajengking pun mulai bertebaran di media sosial. Namun, tidak sampai disitu, banyak juga racun hewan lain yang berpotensi sebagai obat. Berikut diantaranya :

Racun Laba-Laba

Binatang berkaki delapan itu merupakan salah satu binatang yang ditakuti manusia. Bukan tanpa alasan, beberapa jenis laba-laba memang sangat berbahaya. Salah satu jenisnya yang sangat berbahaya berasal dari Australia, laba-laba funnel web, ternyata mengandung toksin yang dapat membantu stroke yang disebabkan oleh penggumpalan darah.

Racun laba-laba lainnya yang bermanfaat yaitu dalam pengobatan stroke berasal dari tarantula. Selain dapat menyembuhkan penyakit stroke, racun laba-laba jenis ini juga dapat digunakan sebagai antimikroba dan analgesic.

Racun Ular

Dari ular kobra sampai ular derik, masing-masing memiliki racun yang sangat mematikan. Racun dari ular derik sendiri dari Amerika Selatan, misalnya, dapat menyebabkan manusia tidak sadarkan diri dalam waktu hitungan menit saja setelah digigit.

Penelitian terbaru dari Celtich Biotech di Amerika melaporkan bahwa pemberian racun ular derik pada pasien penderita kanker selama 5 minggu, dapat menghambar pertumbungan tumor. Mereka memperoleh akses untuk memerah racun tersebut dari ular derik.

Sekitar 40 ular derik diekstrak racunnya setiap 3 minggu agar bisa memperoleh 3 gram racun saja. Proses ekstraksi racun ular itu dari Kentucky Reptile Zoo ini dapat dikunjungi oleh masyarakat luas.

Tidak hanya ular derik, beberapa ular lainnya bahka juga telah dipasarkan sebagai obat yang bisa mengatasi thrombosis, hipertensi, inflamasi, dan penyakit hati. Sebagai contoh ular King Kobra, yang memiliki aktivitas pereda nyeri 20 kali lipat dibanding dengan morfin dan dijual sebesar Rp 220 juta per gallon.

Racun Keong

Buy Akur, pencipta lagu Keong Racun, tidak menuliskan lirik lagu yang fiksinal. Nyatanya, beberapa keong laut juga memang ada yang beracun dan juga mematikan.

Conotoxin adalah salah satu grup racun yang berasal dari keong laut, yang banyak digunakan untuk penderita nyeri akut. Ziconotide, obat sintesis yang juga diilhami dari contoxin, sampai saat ini telah dipasarkan di bawah merek dagang Prialt dan dibanderol dengan sejumlah harga sekitar Rp 10 juta per militer.

Racun Anemon

Anemon laut sering disebut dengan Nemo, salah satu karekter ikan badut di film “Finding Nemo”. Anemon dan ikan badut sering kali digunakan sebagai hiasa akuarium karena bentuknya yang indah.

Siapa yang menyangka, kalau tentakel anemon ternyata menyimpan racun yang sangat ganas hingga dapat membunuh mangsanya sendiri. Beberapa peneliti di Amerika dan Australia telah banyak meneliti racun anemon untuk mengatasi penyakit multiple sclerosis. Saat ini, potensi pemanfaatan racun anemon sebagai obat yang telah diuji melalui uji klinis pada manusia.

Racun Katak

Golden Poison Dart, salah satu racun yang di miliki Katak Colombia yang dapat membunuh 10 manusia dewasa dalam sekejap. Dikenal juga dengan nama batrachotoxin, racun katak Golden Poison juga memberikan pencerahan bagi para ilmuwan tentang cara kerja sistem syaraf manusia.

Pengetahuan seperti ini memberikan perspektif baru, tentang bagaimana impul eletrik antara syaraf dan otot bekerja, termasuk juga jantung. Penelitian dari Stanford University mengembangkan sintesis racun kata jenis ini, berguna sebagai obat dalam mengatasi penyakit jantung dan nyeri.

Racun Lintah

Lintah terkenal snagat berbahaya dengan kemampuannya menempel pada apapun, termasuk pada kulit manusia dan langsung menghisap darah. Lintah bisa menghisap darah hingga tubuh menjadi ‘bengkak’ delapan kali dari ukuran normal.

Kemampuannya itu didukung karena adanya toksin dalam tubuhnya yang mencegah penggumpalan darah pada mangsanya. Toksin bersumbar dari saliva lintah itu sendiri, dan kini telah dimanfaatkan sebagai obat anti penggumpalan darah dengan nama Hirudin.

Racun Kutu

Kutu sering kali mengganggu karena gigitannya yang menimbulkan rasa gatal dan rasa tidak nyaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saliva dari kutu mengandung lebih dari 3000 protein yang bisa digunakan untuk menghentikan inflamasi jantung penyebab myocarditis (henti jantung pada usia muda) dan gagal jantung.

Peneliti dari University of Oxford bahkan juga telah mengembangkan upaya untuk mendapat protein kutu dalam jumlah besar tanpa harus bersusah payah ‘beternak’ kutu. Caranya, yaitu dengan menggunakan gen sintetis pada ragi. Ragi yang dikembangbiakkan dalam laboratorium ini menjadi solusi utama dalam menghasilkan protein kutu sebagai bahan obat

Racun Lebah

Sengatan lebah sangat menyakinkan, dan bukan hal yang baru. Saat seseorang disengat lebah, protein dan toksin dari lemah mampu mempengaruhi sistem syaraf pusat.

Kemampuan protein toksin lebah untuk melintasi berrier darah pada otak ini merupakan kemampuan istimewa. Para ilmuan dari Spanyol berusaha untuk meneliti lebih jauh tentang pemanfaatan protein dari toksin lebah ini sebagai pembawa obat ke otak manusia.

Protein dari toksin lebah bernama apamin, dimodifikasi untuk mengurangi toksisitasnya sebelum digunakan untuk pembawa obat. Produk derivat dari apamin yang bernama Mini-Ap4 ternyata juga tidak salah, lebih aman untuk digunakan, tetapi juga dapat menerobos barrier darah pada otak dengan aktivitas yang lebih baik dari apamin.

Racun Semut

Semut api juga tak kalah beracun, sesuai namanya semut api terkenal dengan gigitannya yang menimbulkan sensasi terbakar. Sensasi itu menyebabkan efek imflamasi yang diinduksi oelh solanopsin, komponen toksin dalam racun semut api.

Peneliti dari Emor and Case Western berkolaborasi untuk meneliti manfaat solanopsin sebagai obat psoriasis. Psoriasis adalah penyakit kulit yang kronis yang dapat berakibat kondisi automun.

Walaupun psoriasis dapat diatasi secara temporer dengan krim topikal, peneliti mengklaim bahwa senyawa turunan solanopsin dapat meningkatkan dan mengembalikan fungsi kulit seperti semula.

Bagaimana, sekarang sudah pada tahu kan, tak hanya kalajengking yang memilki racun yang mematikan tetapi bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Related posts

Loading...